Empat Jalan Kembali Kepada-NYA Bag. 002

 

Kalau lihat ilustrasi di atas (2D), mengingatkan kita akan piramida empat sisi (3D).  Dari semua sisi kita bisa mencapai puncaknya, yang penulis coba deskripsikan / tambahkan adalah ilustrasi perbedaan “kondisi jalan” setiap sisi. 

 

Semua jalan pada dasarnya sama saja, mengantar kita ke “Kampung Halaman” kita semua, tempat kita semua berasal.  Namun Bumi ini hanya dapat memberikan pendidikan yang cukup bagi mereka yang akan menempuh Jalan Jin atau Manusia.  Tempat pendidikan ini tidak mempunyai “SKS” yang cukup bagi mereka yang ingin melanjutkan pelajaran di jalur Syaitan maupun Malaikat.  Jadi untuk mengfasilitasi keinginan ini mereka harus “pindah sekolah” (saya juga tidak tahu persis jumlah dan “kredit” mana yang bisa dipindahkan, sepertinya harus banyak mengulang).

\

Dalam tulisan-tulisan yang lalu saya menyebutkan alam ini adalah alam density-3, di mana mahluk-mahlukNya memilih jalur jalan kembali ke Alam Kesatuan (density-6) lalu bersama-sama kembali ke Alam Ketakberhinggaan (density-7).  Apakah langit ketujuh terminal terakhir? Tentu saja tidak, masih ada density-8 yang merupakan alam diluar konsep apapun, diluar bayangan imajinasi kita (beyond our wildest imagination).  Density-8 adalah permulaan dari oktav berikutnya.  Dia disebut Maha Pencipta karena semua alam adalah ciptaanNya, termasuk Alam Ketakberhinggaan (sebenarnya alam-alam keterbatasan diciptakan oleh mahluk-mahlukNya dari alam ini) yang diluar konsep ruang-waktu, bahkan alam yang lebih dari ini yakni alam-alam yang diluar konsep apapun (kata “penciptaan” terkungkung oleh konsep ruang-waktu, kalau dikatakan diciptakan maka harus ada awalnya, dari tiada menjadi ada.  Maha Pencipta tentunya tidak terbelenggu oleh ruang-waktu).

 

Jalan Malaikat

Ciri khusus secara fisik yakni tidak mengkonsumsi apapun (termasuk mineral apapun seperti oksigen) untuk bertahan hidup.  Sumber energinya diterima langsung dari energi Ketakberhinggaan.  Hanya nuansa kecintaan (tanpa pamrih), energi feminin, yang bisa membuat para Malaikat maju, kembali ke Alam Penyatuan melalui alam-alam density 4 dan 5.  Senantiasa memancarkan energi Kecintaan tanpa pamrih ke Alam Semesta.

 

Jalan Syaitan

Sebaliknya Syaitan menyerap apapun disekelilingnya yang bisa dikonsumsi dan menguatkan dirinya.  Melenyapkan semua yang dianggap merugikan dirinya.  Hanya dengan menyingkirkan semua yang dianggap gelaplah maka dia baru bisa mendapatkan cahaya (akhirnya).  Hanya bisa maju ke Alam Penyatuan melalui alam-alam density 4 dan 5 dengan cara-cara kekerasan (maskulin) yang penuh penderitaan.  Senantiasa menyerap energi (fisik, maskulin) di Alam Raya.

 

Jalan Jin

Keseimbangan energi Maskulin-Feminin, Menyerap-Memancar, Ying-Yang, ciri khas agama-agama / kepercayaan timur.  Bisa maju dalam kondisi damai maupun derita / keras.  Jin sejati tentunya sisi damainya lebih besar.  Jadi apanya yang tersembunyi (ciri khas Jin)? Jawabnya: keinginan / ambisi akan power / kekuasaan.  Seorang eksekutif (termasuk politisi) yang “baik” biasanya energetik tapi tidak boleh kelihatan ambisius.  Selalu mengedepankan kepentingan bersama, namun kita semua tahu mereka yang di hirarki tertinggilah yang mendapatkan kompensasi tertinggi pula.  Tapi seorang Jin sejati sama sekali tidak terlihat keinginannya akan kekuatan fisik maupun non-fisik, yang hampir tidak bisa dibedakan dengan mereka yang berada di jalan Manusia.  Oleh karena itu pula jalan Jin sejati disebut pula jalan tengah / Unity / Tauhid.

 

Jalan Manusia

Juga menganut keseimbangan sisi maskulin-feminin tapi sisi femininnya secara keseluruhan jauh lebih dominan, sebagai penjelmaaan dari “RahmatKu meliputi segala sesuatu”.  Pada saat-saat tertentu sisi maskulinnya dominan,  sedangkan sisi kecintaan tanpa pamrihnya agak tidak kasat mata, padahal sesungguhnya dominan.  Misi ini yang kurang lebih muncul di agama-agama yang berasal dari Timur-Tengah.  Dalam Al-Quran disebutkan “Balaslah dengan setimpal, tapi kalau engkau maafkan itu lebih baik”,  Musa as: “Mata dibalas mata” dan Isa as: “Cintailah musuh-musuhmu”.  Jadi di sini mengadopsi sisi keseimbangan (maskulin) dan pemaafan (feminin, ketidak seimbangan) sekaligus.  Mengadopsi kedua sisi ini tanpa kontradiksi, dengan sisi kecintaan tanpa pamrih lebih dominan adalah ciri khas Jalan Manusia, yang disebut juga sebagai jalan tengah / Unity / Tauhid.

 

Nabi Yusuf as yang tadinya seorang budak lalu bisa menjadi petinggi di Mesir menunjukan berkembangannya sisi maskulinitasnya.  Sedangkan pemaafan terhadap saudara-saudara yang hendak membunuhnya di waktu kecil adalah bukti sisi feminin, kecintaan tanpa pamrihnya yang lebih dominan.  Begitu pula dengan Nabi Muhammad saw yang memaafkan penduduk kota Mekah yang pernah berusaha membunuh beliau.  Pemaafan penduduk negara-negara sekutu (termasuk penduduk Indonesia terhadap Jepang / Belanda) terhadap penduduk negara-negara agresor di waktu Perang Dunia Kedua sebenarnya adalah bukti keberhasilan secara global Jalan Manusia di Bumi.  Namun masih ada pihak-pihak yang belum bisa terima Bumi ini diserahkan kepada mereka yang berada di Jalan Manusia (Yang belum bisa menerima adalah mereka yang di jalan Jin tapi lebih condong kearah Syaitani, dalam Al-Quran disebutkan Iblis, pemimpin Syaitan, berasal dari kalangan Jin).  Lalu menarik / memprovokasi dunia ini kearah kekerasan dengan berbagai cara seperti: Perang Korea, Isu Komunisme, Perang Vietnam, Isu Islam Fundamentalis, Perang Arab vs Israel, Perang Irak dan sebagainya, bahkan mereka merasakan perlunya ada Perang Dunia Ketiga.

 

Sufisme sebagai jalan tengah, jalan Tauhid

Pandangan “Sufisme” agama-agama / kepercayaan di seluruh dunia pada hakekatnya sama,  Bhinneka Tunggal Ika, walau berbeda, mempunyai berbagai cara tapi Satu tujuan.  Tentunya menghindari cara-cara kekerasan, menghindari cara-cara / hal-hal yang berlebih-lebihan.  Merasa kita semua berasal dari yang Satu.  Baik di Jalan Manusia maupun Jin tidak mengenal hirarki (Malaikatpun ada petingginya yakni yang disebut Jibril), karena sejak awal sudah bisa merasakan / melihat Semua sebagai Satu adanya.  Bisa merasakan (sekarang juga, terutama dalam meditasi) menyatunya Alam Ruang-Waktu dan Waktu Ruang.  Oleh karena itu mereka bisa melihat / merasakan alam density 3 akhir (Bumi sekarang), density 4, 5 dan 6 sebagai suatu alam yang tak terpisahkan (tentunya termasuk alam density 1 & 2 ).  Bukan suatu hal yang istimewa (biasa-biasa saja, alamiah) kalau ada seseorang sekarang bisa langsung masuk langit ketujuh (ketika kita kembali ke Alam Ketakberhinggaan, kita akan merasa hadir pada setiap zarah yang ada di Alam Semesta ini – walau masih sebatas oktav ini).

 

Alam Ruang-Waktu dan Waktu-Ruang

Satuan terkecil yang ada di Alam Semesta (setidaknya alam density 1 s/d 6 oktav ini) adalah gerak, berada dalam tiga dimensi (3D), dalam unit-unit yang deskrit, serta dalam dua aspek yang resiprokal yakni ruang dan waktu. Teori matematik nya bisa di lihat disini:

 

The Reciprocal System of Theory by Dewey B. Larson:

http://www.reciprocalsystem.com/isus/

Alam Semesta ini terdiri dari ruang yang tiga dimensi serta waktu yang tiga dimensi pula (hal ini yang sulit dimengerti akal awam).  Alam Ruang-Waktu adalah dimana Ruang 3D dan Waktu dirasakan linier, seperti umumnya yang dirasakan di Bumi saat ini.  Sedangkan Alam Malaikat dan Manusia (nantinya, relatif sebentar lagi) di Alam Waktu-Ruang dimana Waktu 3D dan Ruang linier.  Kita bisa menjelajah Waktu bagai menjelajah Ruang 3D sekarang.  Pengalaman mimpi adalah penggambaran yang paling bisa dikenal banyak orang. 

 

Kalau kita mempunyai pengalaman / kemampuan menembus waktu berarti sesungguhnya menembus ruang juga.  Karena ruang dan waktu adalah suatu yang resiprokal. Melalui jalan manapun akhirnya kita semua kembali kepada yang Satu jua (Alam Penyatuan Ruang-Waktu dan Waktu-Ruang), hanya saja pengalaman dan konsekuensinya yang berbeda.  Tiada Keberadaan selain Dia.

 

http://going-home.org

Bersambung….

~ oleh Abu Zafa di/pada Juli 24, 2008.

Tinggalkan Balasan