Dari beberapa saudara, kawan dan rekanan yang melawat dan ikut berbelasungkawa pada saat penguburan anak saya Muh. Sulthan Aqil, mereka mengatakan,”mungkin dadan keluarga dipercaya hanya sampai 6 bulan…” lebih kurang seperti itu mereka katakan. Dan kalimat itu pula, yang muncul dipikiran saya saat Aqil mengehembuskan nafas terakhirnya didekapan saya.
Saat Aqil, dalam usaha perawatan oleh para ahli medis UGD. Saya bergumam,”Tuhan beri saya kesempatan menjadi seorang ayah yang baik, membesarkan anak-anak lebih baik dari orangtuanya..”. Keringat dingin dan tangan yang tiba-tiba serasa dikerubungi jutaan semut, saya berpikir apakah doa saya terkabul? Saya lari mendekati Aqil yang sudah tidak sadarkan diri, ibunya memanggil saya agar saya terus disisi anak bungsu saya ini. Cerita selanjutnya seperti yang saya katakana diatas, Aqil akhirnya diambil oleh Dia.
Sejauh mana rencana Tuhan menciptakan mahluknya yang dititipkan kepada saya yang begitu sulitnya diciptakan, hingga sembilan bulan lebih dikandung oleh ibunya, dan saat dilahirkan pun bukan hal gampang—tapi tidak sampai satu tahun, Dia mengambilnya kembali dari pelukan saya dan ibunya. Ada apa dengan Tuhan sang Pencipta ini??? Sejauh mana ketidak percayaan Tuhan terhadap saya ini? Sebegitu tiada kemampuannyakah saya sebagai seorang ayah, sehingga Dia merengut kembali buah hati saya ini? Bukan Dia Maha Mengetahui??? Dia sesungguh harus tahu kemampuan saya sebagai orangtua bagi Aqil-mahluk ciptaan-Nya. Sehingga jika Dia tidak percaya kepada saya kenapa harus dilahirkan???
Pikiran-pikiran itu terus menghantui saya hingga malam pertama Aqil meninggal, ketika bangun di dini hari dada saya sesak—saya benar-benar menjadi seorang laki-laki yang cengeng, tumpah air mata saya dengan pertanyaan “kenapa Tuhan tidak percaya kepada saya?”… Saya sedih ditinggal pergi oleh Aqil, tapi lebih sedih dan marah lagi saya saat Tuhan tidak percaya lagi terhadap saya…
Muka bumi ini serasa kosong—mungkin sehampa tanah dibulan… Saya tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, terutama dalam keluarga yang saya bentuk. Istri dan 2 orang anak yang masih kecil-kecil mengharuskan saya kuat didepan mereka.
Saya coba menghibur diri dengan mencari referensi2 tentang kematian seorang anak yang belum baligh. Menurut ajaran yang saya anut, anak saya ini meninggal bukan menjadi musibah namun menjadi sebuah himpunan dari keberkahan. Betulkah demikian??? Luka dihati ini mungkin belum sembuh benar sehingga saya masih tetap bertanya,”Kenapa Dia tidak percaya, sehingga harus mengambil lagi titipan-Nya?”
Hal yang pasti disaat kehilangan orang yang paling disayang pastinya akan meninggalkan kesedihan mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Kematian adalah rahasia ilahi yang tidak satupun makhluk bernama manusia yang mengetahui kehadirannya. Saya paham dengan keterbatasan hamba dengan sang khaliknya, Ilmu manusia takkan pernah sampai pada rahasia kematian. Dan saya pun memahami hidup dan mati adalah rancangan sempurna sang ilahi, manusia hanya wayang-wayang yang memainkan sebuah skenario indah dari sang Dalang.
Sekedar penghiburan dari pertanyaan saya, saya alihkan bahwa jika Aqil hidup dengan orangtua yang tinggal di dunia yang carut marut ini, mungkin dia akan lebih menderita… di Surga kamu Aqil, tak pernah kesusahan lagi berpikir bagaimana harus makan dengan baik, bagaimana berhati-hati melangkah di dunia yang tidak aman ini… Tunggu Abi dan Umi, ya… Abi dan Umi masih berjuang disini
Beyond the door,
There’s peace I’m sure,
And I know there’ll be no more
Tears in heaven.
Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong
And carry on,
‘Cause I know I don’t belong
Here in heaven